makalah : islam di Indonesia
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Agama islam adalah ajaran yang di
turunan kepada Nabi Muhammad . Berkembang pertama di Saudi Arabia dan akhirnya
meluas ke negara-negara lainnya termasuk Indonensia. Dimulai banyaknya para
pedagang asing di Sumatra dan Jawa pada abad ke 1-7. Bersamaan dengan itu,
datang para pedagang dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya menjajakan dagangan
tetapi juga menyebarkan agama islam. Penyebaranny pun dilakukan dengan berbagai
cara.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja teori penyebaran agama
islam di indonesia?
2. Bagaimana proses penyebaran agama
islam di indonesia?
3. Kerajaan apa saja yang ikut
serta dalam penyebaran agama islam di
indonesia?
4. Bagaimana kiprah ulama’ awal di
indonesia?
1.3 Tujuan
1.
Untk mengetahui teori penyebaran islam di Indonesia
2. Untuk mengetahui proses
penyebaran agama islam di indonesia
3. Untuk mengetahui kerajan yang
ikut serta dalam penyebaran agama islam
di indonesia
4. Untuk mengetahui kiprah awal
ulama’ di Indonesia
1.4 Manfaat
1. memberi informasi tentang
masuknya agama islam di Indonesia
2. mengetahui sejarah tentang islam
BAB II
PEMBAHASAN
Setelah wafatnya Nabi
Muhammad SAW pada tahun 632 M, kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifah.
Dibawah kepemimpinan para khalifah, agama Islam mulai disebarkan lebih luas
lagi. Sampai abad ke-8 saja, pengaruh Islam telah menyebar ke seluruh Timur
Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol. Kemudian pada masa dinasti Ummayah, pengaruh
Islam mulai berkembang hingga Nusantara.
Sejarah mencatat,
kepulauan-kepulauan Nusantara merupakan daerah yang terkenal sebagai penghasil
rempah-rempah terbesar di dunia. Hal tersebut membuat banyak pedagang dari
berbagai penjuru dunia datang ke Nusantara untuk membeli rempah-rempah yang
akan dijual kembali ke daerah asal mereka. Termasuk para pedagang dari Arab,
Persia, dan Gujarat. Selain berdagang, para pedagang muslim tersebut juga
berdakwah untuk mengenalkan agama Islam kepada penduduk lokal.
2.1
Teori-Teori Masuknya
Islam ke Indonesia
Menurut beberapa sejarawan, agama Islam baru masuk ke Indonesia pada abad
ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang muslim. Meskipun begitu, belum
diketahui secara pasti sejak kapan Islam masuk ke Indonesia karena para ahli
masih berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Setidaknya ada tiga teori yang
mencoba menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu:
1.
Teori
Gujarat, Teori yang dipelopori oleh Snouck Hurgronje ini menyatakan bahwa
agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh
para pedagang dari Kambay (Gujarat), India.
2.
Teori Persia, Teori
ini dipelopori oleh P.A Husein Hidayat. Teori Persia ini menyatakan bahwa agama
Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) karena adanya
beberapa kesamaan antara kebudayaan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia.
3.
Teori Mekkah(Arab),
Teori ini adalah teori baru yang muncul untuk menyanggah bahwa Islam baru
sampai di Indonesia pada abad ke-13 dan dibawa oleh orang Gujarat. Teori ini
mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah (arab) sebagai
pusat agama Islam sejak abad ke-7. Teori ini didasari oleh sebuah berita dari
Cina yang menyatakan bahwa pada abad ke-7 sudah terdapat sebuah perkampungan
muslim di pantai barat Sumatera.
Sebuah batu nisan berhuruf Arab milik
seorang wanita muslim bernama Fatimah Binti Maemun yang ditemukan di Sumatera
Utara dan diperkirakan berasal dari abad ke-11 juga menjadi bukti bahwa agama
Islam sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum abad ke-13.
2.2
Proses Penyebaran
Islam di Indonesia
Proses penyebaran islam ke Indonesia dilakukan secara
damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk lokal yang
telah lebih dulu ada. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat,
tidak membeda-bedakan si miskin dan si kaya, si kuat dan si lemah, rakyat kecil
dan penguasa, tidak adanya sistem kasta dan menganggap semua orang sama
kedudukannya dihadapan Allah telah membuat agama Islam perlahan-lahan mulai
memeluk agama Islam.
Proses penyebaran Islam ke Indonesia dilakukan secara damai dan dilakukan
dengan cara- cara sebagai berikut :
1.
Melalui Cara
Perdagangan
Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan
laut yang menghubungkan antara China dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia
yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat
padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk para
pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak
yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di Nusantara. Para pedagang ini
juga tak jarang mengundang para ulama dan mubaligh dari negeri asal mereka ke
nusantara. Para ulama dan mubaligh yang datang atas undangan para pedagang
inilah yang diduga memiliki salah satu peran penting dalam upaya penyebaran
Islam di Indonesia.
2.
Melalui Perkawinan
Bagi masyarakat pribumi, para pedagang
muslim dianggap sebagai kelangan yang terpandang. Hal ini menyebabkan banyak
penguasa pribumi tertarik untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para
pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu.
Pernikahan secara muslim antara para saudagar muslim dengan penguasa lokal ini
semakin memperlancar penyebaran Islam di Nusantara.
3.
Melalui Politik
Masyarakat
Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi kepada Raja, dan seorang Raja selalu
menjadi panutan bahkan menjadi contoh bagi rakyatnya. Sehingga ketika Raja
memeluk agama Islam, maka rakyat akan turut masuk islam. Dengan begitu,
kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan yang
diikuti dengan penyebaran agama islam.
4.
Melalui Pendidikan
Pengajaran dan pendidikan Islam mulai
dilakukan setelah masyarakat islam terbentuk. Pendidikan dilakukan di pesantren
ataupun di pondok yang dibimbing oleh guru agama, ulama, ataupun kyai. Para
santri yang telah lulus akan pulang ke kampung halamannya dan akan mendakwahkan
Islam di kampung masing-masing.
5.
Melalui Tasawuf
Seseorang yang ahli tasawuf disebut
dengan Sufi yang biasanya mempunyai keahlian yang mampu membantu masyarakat
dalam menyembuhkan penyakit, dll. Dengan kemampuan tersebut, islam dapat dengan
mudah disiarkan dan diajarkan dikalangan masyarakat dan mudah diterima oleh
mereka.
6.
Melalui Kesenian
Wayang adalah salah satu sarana kesenian
untuk menyebarkan islam kepada penduduk lokal. Sunan Kalijaga adalah salah satu
tokoh terpandang yang mementaskan wayang untuk mengenalkan agama Islam. Cerita
wayang yang dipentaskan biasanya dipetik dari kisah Mahabrata atau Ramayana
yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai Islam.
2.3 Penyebaran Islam
Melalui Kekuasaan/Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia
1)
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali berdiri
di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai yang terletak di Lhokseumawe berdiri pada
abad ke-13. Raja pertama Samudera Pasai adalah Sultan Malik Al Saleh yang
memerintah hingga tahun 1297. Sepeninggal Sultan Malik Al Saleh, Samudera Pasai
diperintah oleh Sultan Malik Al Tahir. Pada masa pemerintahannya Samudera Pasai
berkembang menjadi daerah perdagangan dan penyebaran Islam.
Banyak pedagang muslim Arab dan Gujarat yang tinggal di Samudera Pasai
sehingga Samudera Pasai berperan besar dalam penyebaran agama Islam di
Indonesia.
Perkembangan Kerajaan
Samudera Pasai didorong beberapa faktor yaitu:
1.
Letak Samudera Pasai
strategis di tepi selat Malaka.
2.
Melemahnya kerajaan
Sriwijaya yang menyebabkan Samudera Pasai berkesempatan untuk berkembang.
3.
Samudera pasai
selanjutnya diperintah oleh Sultan Ahmad. PADA masa ini terjalin dengan
kesultanan Dehli di India yang dibuktikan dengan kedatangan Ibnu Batutah di
Samudera Pasai tahun 1345 kerajaan Samudera Pasai akhirnya mengalami kemunduran
sepeninggal Sultan Ahmad. Hal ini disebabkan oleh terdesaknya perdagangan Samudera
Pasai oleh Malaka.
2)
Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh berdiri pada awal abad ke-16 yang didirikan oleh Sultan Ali
Mughayat Syah setelah berhasil melepaskan diri dari kerajaan Pedir. Beberapa
faktor yang mendorong berkembangnya kerajaan Aceh, antara lain:
1. Jatuhnya Malaka dalam kekuasaan Portugis tahun 1511.
2. Letak kerajaan Aceh sangat strategis pada jalur perdagangan internasional.
3. Kerajaan Aceh mempunyai pelabuhan dagang yang ramai dan menjadi pusat agama
Islam.
Kerajaan Aceh akhirnya mengalami puncak
kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Wilayah
kekuasaan kerajaan Aceh bertambah luas hingga ke Deli, Nias, Bintang, Johor,
Pahang, Perah dan Kedah. Dalam upayanya memperluas wilayah ternyata diikuti
dengan upacara penyebaran agama Islam sehingga daerah-daerah yang dikuasai
Kerajaan Aceh akhirnya menganut agama Islam.
Corak pemerintahan kerajaan Aceh memiliki
ciri khusus yang didasarkan pemerintahan sipil dan agama. Hukum adat dijalankan
berlandaskan Islam yang disebut Adat Maukta Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda
meninggal Aceh mengalami kemunduran karena :
1. Tidak ada raja-raja yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas.
2. Timbulnya pertikaian antara golongan bangsawan (teuku) dan golongan ulama
(teuku).
3. Timbulnya pertikaian golongan ulama yang beraliran Syiah dan Sunnah Wal
Jamaah.
4. Banyak daerah yang melepaskan diri seperti Johong, Pahang, Perlak,
Minangkabau dan Syiak.
5. Mundurnya perdagangan karena selat Malaka dikuasai Belanda (1641).
3)
Kerajaan Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada akhir abad 15, setelah
berhasil melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak
merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di Pulau Jawa.
Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan pesat.
Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak mengalami perkembangan pesat.
Faktor-faktor pendorong kemajuan kerajaan Demak adalah :
1. Runtuhnya kerajaan Majapahit.
2. Letak Demak strategis di daerah pantai sehingga hubungan dengan dunia luar
menjadi terbuka.
3. Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor impor yang sangat
penting bagi demak.
4. Demak memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman.
Kerajaan Demak dengan bantuan wali sanga berkembang menjadi pusat
penyebaran agama Islam di Jawa pada masa inilah Masjid Agung Demak dibangun.
Ketika Malaka. Dikuasai Portugis, Demak merasa dirugikan sehingga pasukan Demak
yang dipimpin Pati Unus dikirim untuk menyerang Portugis di Malaka tahun 1513,
tetapi mengalami kegagalan. Pati Unus kemudian terkenal dengan sebutan Pangeran
Sabrang Lor.
4)
Kerajaan Pajang
Kerajaan pajang didirikan oleh Joko Tingkir yang telah menjadi raja
bergelar Sultan Hadiwijaya. Pada masa pemerintahannya, kerajaan mengalami
kemajuan. Pengganti Sultan Hadiwijaya adalah putraya bernama pangeran Benowo.
Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan Arya Pangiri (Putra Sultan
Prawoto). Akan tetapi pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh Sutawijaya
(Putra Ki Ageng Pemanahan). Pangeran Benowo selanjutnya menyerahkan
pemerintahan Pajang kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan
pemerintahan Pajang ke Mataram.
5)
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam berdiri tahun 1586 dengan raja yang pertama
Sutawijaya yang bergelar Panembahans Senopati (1586-1601). Pengganti Penembahan
Senopati adalah Mas Jolang (1601 – 1613). Dalam usahanya mempersatukan
kerajaan-kerajaan Islam di Pantai untuk memperkuat kedudukan politik dan
ekonomi Mataram. Mas Jolang gugur dalam pertempuran di Krapyak sehingga dikenal
dengan nama Panembahan Seda Krapyak.
Kerajaan Mataram kemudian diperintah Sultan Agung pada masa inilah Mataram
mencapai puncak kejayaan. Wilayah Mataram bertambah luas meliputi Jawa Tengah,
Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat kemajuan yang dicapai Sultan Agung meliputi
:
1.
Bidang Politik
Sultan Agung berhasil menyatukan
kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang VOC di Batavia. Serangan Mataram
terhadap VOC dilakukan tahun 1628 dan 1929 tetapi gagal mengusir VOC karena :
a. Jaraknya terlalu jauh yang mengurangi ketahanan prajurit Mataram.
b. Kekurangan persediaan makanan.
c. Pasukan Mataram kalah dalam persenjataan dan pengalaman perang.
2.
Bidang Ekonomi
Kerajaan Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan
beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi.
3.
Bidang Sosial Budaya
Munculnya kebudayaan kejawen yang merupakan kebudayaan asli Jawa dengan
kebudayaan Islam Sultan Agung berhasil menyusun Tarikh Jawa. Ilmu pengetahuan
dan seni berkembang pesat, sultan Agung mengarang kita sastra Gending Nitisruti
dan Astabrata.
Sepeninggal Sultan Agung tahun 1645, kerajaan mataram mengalami kemunduran
sebab penggantinya cenderung bekerjasama dengan VOC.
6)
Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon didirikan Fatahillahs setelah menyerahkan Banten kepada
putranya. Pada masa pemerintahan Fatahillah (Sunan Gunung Jati) perkembangan
agama Islam di Cirebon mengalami kemajuan pesat. Pengganti Fatahillah setelah
wafat adalah penembahan Ratu, tetapi kerajaan Cirebon mengalami kemunduran.
Pada tahun 1681 kerajaan Cirebon pecah menjadi dua, yaitu Kasepuhan dan
Kanoman.
7)
Kerajaan Makasar
Kerajaan Makasar yang berdiri pada abad 18 pada mulanya terdiri dari dua
kerajaan yaitu kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa Tallo) yang beribu kota di
Sombaopu. Raja Gowa Daeng Maurabia menjadi raja Gowa Tallo bergelar Sultan
Alaudin dan Raja Tallo Karaeng Matoaya menjadi patih bergelar Sultan Abdullah.
Kerajaan Gowa Tallo (Makasar) akhirnya dapat berkembang menjadi pusat
perdagangan yang didorong beberapa faktor, antara lain :
a.
Letaknya strategis yang
menghubungkan pelayaran Malaka-Jawa-Maluku.
b.
Letaknya di muara sungai
yang memudahkan lalu lintas perdagangan antar daerah pedalaman.
c.
Jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis yang mendorong para pedagang mencari pelabuhan yang memperjual belikan rempah-rempah.
d.
Kemahiran penduduk
Makasar dalam bidang pelayaran dan pembuatan kapal.
8)
Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13 yang beribu kota di Sampalu. Agama
Islam mulai disebarkan di Ternate pada abad ke-14. pada abad ke-15 Kerajaan
Ternate dapat berkembang pesat oleh kekayaan rempah-rempah terutama cengkih
yang dimiliki Ternate dan adanya kemajuan pelayaran serta perdagangan di
Ternate.
Ramainya perdagangan rempah-rempah di Maluku mendorong terbentuknya
persekutuan dagang yaitu:
a.
Uli Lima (Persekutuan
Lima) yang dipimpin Kerajaan Ternate.
b.
Uli Syiwa (Persekutuan
Sembilan) yang dipimpin kerajaan Tidore.
Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan
pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada saat itu wilayah kerajaan Ternate
sampai ke daerah Filipina bagian selatan bersamaan pula dengan penyebaran agama
Islam. Oleh karena kebesarannya, Sultan Baabullah mendapat sebutan “Yang
dipertuan” di 72 pulau.
9)
Kerajaan Tidore
Kerajaan Tidore berdiri pada abad ke-13 hampir bersamaan dengan kerajaan
Ternate. Kerajaan Tidore juga kaya rempah-rempah sehinga banyak dikunjungi para
pedagang. Pada awalnya Ternate dan Tidore bersaing memperebutkan kekuasaan
perdagangaan di Maluku. Lebih-lebih dengan datangnya Portugis dan Spanyol di
Maluku. Akan tetapi kedua kerajaan tersebut akhirya bersatu melawan kekuasaan
Portugis di Maluku.
Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan
Nuku. Pada masa pemerintahannya berhasil memperluas daerahnya sampai ke
Halmahera, Seram dan Kai sambil melakukan penyebaran agama Islam.
2.4 Kiprah Ulama di
Nusantara
Dalam
perkembangan islam di Indonesia tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh islam
yang banyak berperan didalamnya, diantaranya adalah:
1. Hamzah
Fansury
Hamzah Fansury
lahir di sumatra utara, dikenal sebagai tokoh tasawuf dari Aceh. Tokoh sufi ini
terkenal sebagai pembawa paham Wahdatul Wuju, yang diambil dari pemikiran Ibnu
Arabi.
Hamzah
Fansury banyak meakukan pengembaraan di berbagai wilayah sampai akhirnya meneap
di Aceh. Pengembaraannya itu bertujuan untuk mancapai ma’rifat kepada Allah.
Hamzah
Fansury adalah peletak dasar bahasa meayu sebagai bahasa keempat di dunia
islamsetelah bahasa Arab, Persi, dan Turki.
Hamzah
Fansury mulai menulis pada masa Sultan Alaudin dan hampir semua karyanya
dijadikan sebagai sarana mempopulerkan ajaran Wahdatul Wujud. Tapi ditentang oleh Nuruddin Ar Raniri karena
dianggap menyebarkan agama patheisme. Aspek yang sering diangkat adalah tasybih
(kemiripan) antara Tuhan dan Alam yang diciptakan. Selain itu aspek tanzih
(perbedaan).
2. Syamsuddin
As-Sumatrani
Syamsuddin As-Sumatrani juga tokoh
tasawuf dari Aceh. Syamsuddin
As-Sumatrani adalah murid dari Hamzah Fansuryyang juga menganut Wahdatul Wujud.
Tapi aliran Syamsuddin As-Sumatrani berbeda dengan Hamzah Fansury. Hamzah
Fansury adalah tokoh sufi pencari Tuhan atas dorongan batin, sedangkan Syamsuddin As-Sumatrani
seorang sufi yang lebih merasakan kebutuhan mengenali hakikat dari segala
sesuatu.
Dan karena paham yang di anut oleh
Syamsuddin As-Sumatrani bertentangan dengan
Nuruddin Ar Raniri aibatnya karya-karya Syamsuddin As-Sumatrani dibakar
oleh Nuruddin Ar Raniriatas perintah Sultan Iskandar Sani.
3. Nuruddin
Ar-Raniri
Nuruddin
Ar-Raniri merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat tinggal. Datang
di Aceh tanggal 31 Mei 1637. Terkenal seorang ulama dan penulis yang produktif.
Pada setiap tulisannya ia selalu menyebutkan sumber pegambilan untuk memperkuat
argumenyang dipaparakan. Tulisannya meliputi berbagai cabang.
Nuruddin
Ar-Raniri mendapat tugas sebagai muftikerajaan Aceh pad masa sultan Iskandar
Sani. Posisi penting ini menjadikan
leluasa untuk menerangkan kesesatan ajaran Wahdatul Wujud. Ditambah lagi ia
juga menerbitkan karyanya untuk menyanggah pendapat paham wujudiyyah.
4. Nawawi
Al-Bantani
Nawawi
Al-Bantani adalh salah satu turunan dari penguasa kerajaan Banten, Sultan
Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah. Umur 18 tahun teah menjadi Hafidz dan
menguasai berbagai ilmu agama. Pendapat-pendapatnya lebih bercorak ahlussunnah
wal Jamaah.
Nawawi
Al-Bantani banyak mendapat kehormatan untuk menjadi imam besar Masjidil Haram,
Sayid Ulama’ al-Hejaz , Mufti dan Faqih, walaupun begitu beliau tetap
sederhana.
Karena
kecerdasan ilmu agamanya selam 30 tahun ,ia menyampaikan pengajian di Masjidil
Haram setiap harinya. Murid-murid dari
Indonesia diantaranya: KH Kholil (Bangkalan) dan KH Hasyim Asy’ari (jombang)
5. Syekh
Ahmad Khatib As-Sambasi
Syekh Ahmad
Khatib As -Sambasi seorang ahli tarekat dan mendirikan Qodiriyah Naqsabandiyahyang
banyak dijumpai di Nusantara. ia mengabdikan hidunya dan mendedikasikan ilmunya
untuk menjadi guru sampai ia wafat.
Kitab Fath
al-‘arifin adalah karya Syekh Ahmad Khatib As –Sambasi yang terkenal dan
membawa pengaruh kuat terhadap praktik sufisme.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut beberapa sejarawan, agama Islam
baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang
muslim. Meskipun begitu, belum diketahui secara pasti sejak kapan Islam masuk
ke Indonesia karena para ahli masih berbeda pendapat mengenai hal tersebut.
Setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang proses masuknya
Islam ke Indonesia, yaitu teori gujarat, teori persia, dan teori mekkah.
Proses penyebaran islam ke Indonesia
dilakukan secara damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat
penduduk lokal yang telah lebih dulu ada. Hal itu dilakukan melalui
perdagangan, perkawinan, politik, pendidikan, tasawuf dan kesenian.
Melalui kekuasaan, islam berkembang
seiring dengan adanya kerajaan-kerajaan islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai,
kerajaan Demak, dan kerajaan Mataram, dll.
Berikut merupakan lintas peristiwa dari
proses masuknya Islam di Indonesia :
|
651 M
|
Kehadiran
seorang duta dari Ta Shih (Arab). Empat tahun kemudian pemimpin dinasti Tang
juga menerima kehadiraan duta Tan-mo-mi-ni(Amirul Mukminin)
|
|
671 M
|
Kaum muslimin
Arab dan Persia tinggal di Bhoga (ibukota kerajaan Sriwijaya)
|
|
674 M
|
Adanya
komunitas muslim Arab di Nusantara, tepatnya di pantai Sumatra.
|
|
1211 M
|
Penanggalan
pada batu nisan makam sultan Sulaiman menjadi bukti adanya islam di Sumatra
|
|
1297 M
|
Sultan Malik
al-Saleh wafat, Raja pertama kerajaan Samudra Pasai. Angka tahun yang
tertulis pada batu nian berteatan dengan tanggal 698 H
|
|
1405-1434 M
|
Samudra Pasai
di pimpin penguasa dari kaum perempuan
|
|
1419 M
|
Angka tahun
yang tertulis pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Ia diakui sebagai
penyebar islam pertama dipulau Jawa
|
|
1512-1513 M
|
Serangan Pati
Unus gagal mengusi Bangsa Portugis dari Malaka
|
|
1521 M
|
Kerajaan
Samudra Pasai dikuasai oleh bangsa Portugs
|
|
1546 M
|
Raja Demak,
Sutan Trenggono meninggal dalam suatu penakhlukan di wilayah jawa timur.
Dibawah kekuasaannyalah Demak mencapai wilayah terluas. Setelah Ia wafat,
Demak berangsur-angsur menuju kemundura dan akhirnya runtuh.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar